Selasa, 19 Juni 2012

Mimpi pun menua


Telah kuterjemahkan gemuruh getar di himpitan fajar dan letihnya pelangi.. Tak kusangka merahnya menyalakan setimbun murka pada lusuh petang.. Kuningnya mengalungi leher nurani yang tak lagi angkuh.. 
Mimpiku sudah semakin menua, sayang.. Tak ayal rasanya aku bermanja terus dengan resah yg berpagut.. Memungut senja yang tersisapun aku telah menyerah Aku hanya bila akan bersemangat, jika mentari yang menyuruh.. Karena aku memang tak ingin terlihat serapuh raga embun pagi.. Aku tak mau kalah pada pelangi sehabis hujan sore.. Aku ingin bertanya sesuatu yg cukup lama berputar-putar di kepala besar ini.. Adakah kau pernah meminta hujan untuk tak membasahiku? Memohon pada sang Tuan malam untuk menjaga senyum renyahku? Sebenarnya aku tlah kehabisan kata mendefinisikan maya.. Sekarang hanya ada dinding abu-abuku yang tersenyum utuh untuk mendengar ku bercerita.. Sudah tak kenal lagi aku dengan dialek malam, dibumbui remang-remang temaram, seperti mengirit sesak di bathin yang mengelupas pilu... Sudah tak ingin kenal lagi aku dengan silaunya panas, diracuni cebis-cebis tanya, semacam menggoda peluh di tubuh yang menguliti terik.. Sudah tak ingin kenallah rasanya aku dengan kemilau kelam, dikerubungi oleh angan-angan raksasa, sejenis melepas pakaian ketergantungan yang membuat gerah radikal berfikir.. Kali ini, dicelah tubuh hujan aku disuguhhi tarian kunang-kunang di kiri-kanan ekor mata, menggigil di rajam dingin.. Petangku ditebas hunus tatapan mereka, aku sempat menatap wajah yang resah berapi di genggaman cerminku.. Rasanya ingin kukembalikan sinar pada bulan, hangat pada mentari dan gelap pada malam.. Aku rindu samar suara yang mengalun di telinga. Memejamkan malam. Dalam diam yg berjarak, malam kita membisu... Rindu pun membeku...Oohh... Kau rupanya sedang berceritera manja pada siang...Ahay,, sesak dadaku terlalu sering mengirit nafas...