Telah
kuterjemahkan gemuruh getar di himpitan fajar dan letihnya pelangi.. Tak
kusangka merahnya menyalakan setimbun murka pada lusuh petang.. Kuningnya
mengalungi leher nurani yang tak lagi angkuh..
Mimpiku sudah semakin menua,
sayang.. Tak ayal rasanya aku bermanja terus dengan resah yg berpagut.. Memungut
senja yang tersisapun aku telah menyerah… Aku hanya
bila akan bersemangat, jika mentari yang menyuruh.. Karena aku memang tak ingin
terlihat serapuh raga embun pagi.. Aku tak mau kalah pada pelangi sehabis hujan
sore.. Aku ingin bertanya sesuatu yg cukup lama berputar-putar di kepala besar
ini.. Adakah kau pernah meminta hujan untuk tak membasahiku? Memohon pada sang
Tuan malam untuk menjaga senyum renyahku? Sebenarnya aku tlah kehabisan kata
mendefinisikan maya.. Sekarang hanya ada dinding abu-abuku yang tersenyum utuh untuk
mendengar ku bercerita.. Sudah tak
kenal lagi aku dengan dialek malam, dibumbui remang-remang temaram, seperti
mengirit sesak di bathin yang mengelupas pilu... Sudah tak ingin kenal lagi aku
dengan silaunya panas, diracuni cebis-cebis tanya, semacam menggoda peluh di
tubuh yang menguliti terik.. Sudah tak ingin kenallah rasanya aku dengan
kemilau kelam, dikerubungi oleh angan-angan raksasa, sejenis melepas pakaian
ketergantungan yang membuat gerah radikal berfikir.. Memejamkan
malam.