Adakah
engkau yang datang, Tuan…?? Hilang tapi disini..
Masihkah
iramamu bersemayam di kering malam…??
Adalah
aku hingga waktu berubah detak,menanti hingga patah..
Pada
tiap kedip teduh yang jatuh, bathinku luruh nan luluh..
Sebab
petanglah yang mendenyutkan nadi sajakku, yg menggulitakan aksara demi aksara..
Aku
mengerti bahwa akan ada langit yang tersenyum setelah hujan berhenti menangis..
Tentang
temaram yang menanggung lebam, tentang nestapa asmara terbungkam , tentang kita
serta dia dengan rasa terdalam…
Aku
ingin diri melupa, tentang kisah yg pernah terasa tersalah…
Ketika
sejenak beradu tatap, semua yg menggetarkan kalbu sungguh sangat tersesali..
Tatap
piluku hingga engkau kan menahu aku selalu terbayang rupa kehilangan…
Tatap
peluhku hingga engkau paham aku sudah seperti kembara malam yg dihadiahi kabut…
Diam-diam
aku, Tuan.. menangisi lirih kerinduan..
Semua
terasa lain, saat gelap menjadi benar benar pekat..
Saat
terik berubah rintik..
Saat
kau tak pulangkan senyum manisku…
Sungguh,
demi beku yang menemaniku kembali..
Di
genggaman aku melupa, ini basah hujan atau tetesairmata..
Namun
Tuan, jangan tertegun fikir.. besok pagi masih kuhidang riang hangatku..
Karena
aku hanya tercipta dari sepah-sepah sendu..
Yang
mudah rapuh di tiup gelombang resah..