Kamis, 20 Oktober 2011

Sang Tuan Embun



Bak embun tersamar raga tuan hujan.. Penambah semilir rasa.
Menggantung di sudut-sudut tiang jemuran tetangga..
Lembar demi lembar dedaun. Dan berorientasi menjatuhkan diri pada rerumput basah.
Membangunkan telinga oleh gemerisik suara nan lembut. Ahh.. embun.
Lagi-lagi parasmu tersamar gerombolan bulir-bulir hujan.
Tak kah kau coba mencondongkan diri dan menepuk dada seraya berkata..
‘’ Aku lah si Tuan embun yang maha hebat”.
“ Akulah pemilik raga yang walau kecil namun tetap terlirik”
Aku tak terkalah oleh bulir-bulir air apapun di muka bumi.

Mana..?? Tak kudengar suara lantam itu.. Mengapa tak kau pekikkan..?
Jangan pernah menghamba wahai tuan embun...
Engkau punya jati diri yang hebat..
Hhh... sudahlah.. mungkin kau memang tak ingini mendamba diri.
Mendamba untuk mereka yang benar-benar ingin meng’aku’mu..
Baiklah, Pintaku tetaplah jadi embun yang menyejukkan nurani..
Dengan lantunan tetes demi tetes..
Ahh.. damai sekali.

LETIHKU MENGKRISTAL


Tolong wakilkan aku..
Membahasakan seribu wacana di ranah desah kalbu.
Ajari aku..
Paham kesetiaan sehingga aku bisa menginterpretasikan paham kehati-hatian..
Aku.. Aku... Aku ikhlas melepas pakaian ketergantunganku dari sisi seseorang..
Aku ingin bias-bias rasa segera pudar.. Aku ingin cebis-cebis kenang hilang jua.

Duhai sang empunya bulir-bulir hujan.. Deraskan hujan-Mu..
Jatuhkan sejatuh-jatuhnya.
Agar pulas terlelap tidurku.
Hingga mengalahkan dendangan sepi yang melenakan.
Bawa  aku duhai mimpi..

Ahh.. Sesaat aku terbangun oleh senja..
Oleh  gemuruh gerombolan butir-butir hujan yang tak berani datang seorang diri.
Biarkan aku.. Menghentikan penantian nyali.
Entah kapan kau hadirkan sebungkus nyali di meja lelahku.

Biarkan aku.. Dalam keterpasungan gemeretak lelah-lelahku.
Aku hanya mau merehatkan telinga dari retorika-retorika mengambang.
Merebahkan raga dan kaki yang senantiasa ku ajak berpetualang.
Kini, diranah nyataku... Lelah dan kecewaku telah benar-benar mengkristal.
Sungguh..

GELAP

Aku hilang jua dalam gulita..
Aku hilang jua dalam gulana..
Aku hilang jua dalam alpa sapa..
Dimana ragaku..?
Resah-resah yang setia tinggal.. sepi-sepi yang temani.
Oleng kendaliku menapak kemudian.
Gemeretak hati pun tak beza.

Ahh.. GELAP.. GELAP..
Terpaku aku di sudut ruang..
Terpasung aku oleh letih yang mengkristal.
Kemana cahaya malam ini..?
Mohon terangi sebelah hati ku nan tunggal.
Arahkan raga secepat mungkin. Aku butuh terang.

Lagi, aku berselimut gulita.. berguling gulana.. berbantal alpa sapa..
Di pojok ruang ini.. Tak berpenghuni satu ragapun.
Kumohon satu sosok sahaja.. Kembalikan cahaya malam ini.
Tapi, sebentar.. ada sekelebat bayang melintas.
Tangan siapa yang sedang menarikku kini..?

Rabu, 12 Oktober 2011

Indah pada waktunya (2)


Ahh.. Pagi selarut ini masih saja kuberkelahi dengan tugas-tugas.. tentu saja aku tak ingin dikalahkan oleh apapun. Kulihat wajah damai mereka ketika terlelap, sangat kontradiksi sekali dengan parasku yang pucat pasi dan bola mataku yang tinggal beberapa volt lagi karena tak bersahabat dengan malam yang inginkan aku selalu berada di alam keterjagaan. Mengapa mereka terlalu begitu cepat terlelap, padahal ku fikir tidak seberat itu perjuangan siang mereka yang pasti berorientasi melemahkan raga. Baik-baik saja, aman-aman saja. Mungkin memang sudah menjadi jalan hidup mereka seperti itu, masa bodoh dengan keterjagaan. Masa bodoh yang penting mereka membiarkan rasa lelap menyelinap ke raga mereka. 
Lalu, bagaimana dengan aku ini.. seyogyanya aku layaknya mereka disana. Berjibaku dengan posisi yang strategis mencari lapak yang layak untuk merebahkan pikiran ini. Sungguh, aku benar-benar ingin meluruskan raga, bangun sekejap dari keterjagaan. Sampai kapan? Sebeginikah? Lelah-lelahku mulai bergemeretakan Tuhan. Tak pandai aku menyembunyikan lantunannya. Pintaku, sebentar sahaja rasanya ingin sekali memejam mata, mengheningkan pandangan, merestartkan isi otakku yang sudah mencapai kapasitas penuh dan tak mampu menerima lagi..  Mengistirahatkan sejuta lelah yang hinggap di punggung langsingku. Walau tak bisa terlelap, ya sudah lah.. paling tidak meluruskan kaki yang sudah kusiksa seharian karena kusuruh berjalan jauh untuk ku..
Saat-saat seperti ini hanya satu nama dan satu raga yang terpatri dan melintas di ujung ingatan. Selelah apapun fikirku, masih akan selalu ada laci menampung sejumput asa yang kudapat darimu. Kemana rimbamu hari ini..?? tak kulihat tingkah gilamu yang sering kutangkap dari ujung mataku. Sisa bayangan pun tak mampu kujamah, ahh.. aku langsung teringat saat itu. Secebis kenang yang terkunci mati di otak penuhku. Minimal masih ada yang keluar sebagai ingatan. Aku ingat betul kegila-gilaanmu dari A hingga Z, bahkan jika masih ada huruf setelah huruf Z aku masih akan menyaksikan gilamu. Aku tak pernah malu melihat perbuatan yang mayoritas khalayak menyebut itu adalah hal memalukan. Aku saksi ragamu, hmm.. kalau sudah begini pembahasannya aku sendiri tak pernah tahu bagaimana mengakhirinya seperti apa kemudian. Baiklah, kulanjutkan.. 
Aku tak pernah membenci ragamu, yang kubenci hanya orientasi hidupmu yang mengambang. Aku sesungguhnya bingung dan mengamati diriku sendiri, ada apa sesungguhnya dibalik parasmu? Dibalik ragamu? Dibalik tawamu? Ah.. sudah hujan.. masih dengarkah suaraku? Masih inginkah mendengarkanku bercerita..
Satu peristiwa tentang hujan lebat mengingatkanku kembali, ketika kau dihadapku. Benar-benar dihadapku. Ketika kau tak pernah biarkan titik rinai hujan menyentuh ujung ubun-ubunku dan biarkan kedua ujung telingaku disapa pekikan petir yang bersaut-sautan dan mencoba membuyarkan perdebatan kita di satu ketika itu. Butiran hujan yang tak berani jatuh sendiri dan membawa rombongan butiran hujan lainnya.. dan jadilah, aku dan kau saling terpaku. Menikmati lantunan nada hujan demi hujan. Saling bertatap wajah dan bertemu mata. Ahh, sungguh pertemuan yang melenakan.
Sesaat aku terbangun dari lenaan itu. Ah, sekelebat kenang ternyata. Hmm, cukup menghiburku dan keterjagaanku. Oh Tuhan, kapan aku sudah boleh tidur? Jika masih melotot mata dan pikiran ini, masih akan selalu terekam nama dan tingkah polanya. Kujamin itu.
Andai ragamu disini saat ini jua, kau tahu rasanya bagai menari di awan.. terbang menghilang dalam pelukan malam layaknya sepenggal lirik lagumu dan adikmu itu.
Aku.. aku mulai mencari ragamu lagi belakangan. Walau tak kusangkal belum bisa kuberi 1 maaf itu, meski maaf yang lain tlah kubagi. Tapi, ternyata rasa mengalahkan ego. Ingatanku tertuju ketika aku engkau sulap menjadi seperti tuan putri yang didampingi pangerannya, yang memperlakukanku dengan teramat lembut dan memang harus begitu memperlakukan perempuan yang berharga. Sudahlah itu sudah. Aku ingin bertanya satu hal dan tak usah kau berbalik tanya mengenai bau rasaku seperti apa untukmu. Pertanyaanku semudah ini, sudah cukupkah semua nyalimu berkumpul menjadi satu? Butuh berapa saat lagi meyakinkan hatiku? Menuju ikatan suci Illahi kita.. bersumpah sehidup semati. Kau pun tahu tak sebentar aku dan kau kumpulkan rasa, sejak 3 tahun lalu itu. Ketika pertama kali bertemu aku tak menganggapmu gila, namun yang lain beranggapan berbeda. Kau masih cukup waras bagiku, buktinya kau bisa berhenti menggila sejenak untuk meyakinkan hati seorang perempuan virgo. Ketika kita bangun hubungan diatas luka dua manusia berharga yang kita cinta. Butuh kesendirian untuk bangkit dari keterpurukan. Kau kutinggalkan. Dan kau tinggalkan aku. Dan sudahlah, ya sudah.. semua sudah menjadi ketersudahan. Kesalahan indah kita kala itu.
Sekarang aku ingin bertanya lagi, saat ini aku berada dalam kapasitas seorang diri begitu jua layaknya kau. Rasa yang kau biarkan pergi berulang-ulang-ulang-ulangkali, dan rasa yang datang berulang-ulang-ulang-ulang-ulangkali jua ketika aku bertatap dengan mata itu. Aku ini apakah? Patungkah? Manekinkah layaknya di distro-distro? Katakan sampai kapan aku menanti nyali mu? Tahukah kau satu hal, letihku mulai mengkristal. Tolong jangan pernah biarkan letih itu menjadi benar-benar mengkristal. Saat kau beri “saat” untuk sebuah ego yang ingin mendewasakan dirinya saat itu juga kau beri “saat” dimana aku harus melepaskan pakaian ketergantunganku dari sisimu.. mungkin semua sudah terlepas, karena aku pribadi mandiri untuk kapasitas seorang perempuan dewasa. Tapi, cebis-cebis kenang yang tak kan pernah bisa memudar. Begitu terpatri di ingatan. Ahh, Pangeran hati.. pergilah yang jauh. Gapai angan dan asamu.. lalu kembali dan hadiahkan sekotak nyali itu. Aku yang sedari waktu memulainya, masih menanti ragamu. Biarkan aku menikmati buncahan rindu dan mengulas kenang di ranah mimpi sebelah hatiku yang tunggal. Karena yang sebelah lalu, kau pinjam untuk kau bawa melayang di negeri antah berantah bukan negeri yang dikepalai presiden retorika beserta antek-anteknya ini. Simpan baik-baik sebelah hatiku yang kau pinjam itu, aku tetap disini sayangku..

Rabu, 14 September 2011

Seruling fajar diharinya pagi

Seruling fajar merekah.
Selimut langit berganti.
Membumbung kepulan awan-awan..
Menyerbakkan nafas baru.

Kelam terbenam telah hembusan sinar surya.
Berlayar kembali, kemudian engkau meniupkan seruling fajar..
Yang biasa meniupkan ritual pagi.
Yang kau titikkan embun nada, nada menyebar ritme perupa..
Tatkala engkau bertanya dalam nada, Sampai kapan seruling fajar kan terbiasa..??


Ahh.. Semoga sayap patahku, cukup menghangatkan pangeran hati..
Yang melambungkan bahagiaku, meneduhkan disaat diri merapuh.
Kini ku paham makna penantian, memahami makna gelombang sebelum daratan.
Saat kesatria kejora memanah mendung diangkasa.
Derai tawaku menjadi bintang dilangit temaram..

Kamis, 10 Februari 2011

Selamat datang malam.

Selamat datang kembali malam.
Aku mohon temani aku terjaga kembali.
Aku takkan mampu tanpamu.
Dan selama bersamamu,aku selalu berkhayal bisa sepanjang hari menikmatimu.Menikmati tenangmu,gelapmu,heningmu hanya bersamanya.
Karena aku hanya bisa bersamanya ketika pagi datang,lalu siang serta petang nmun aku tak bisa selalu bersamanya ketika engkau tiba.
Berdua terjaga dikeheninganmu.
Malam,tlg bantu aku agar kelak bisa bersamanya.
Setiap engkau hadir,akupun selalu mendamba hadirnya.
kpan semua itu wahai mlm?