Kamis, 20 Oktober 2011

LETIHKU MENGKRISTAL


Tolong wakilkan aku..
Membahasakan seribu wacana di ranah desah kalbu.
Ajari aku..
Paham kesetiaan sehingga aku bisa menginterpretasikan paham kehati-hatian..
Aku.. Aku... Aku ikhlas melepas pakaian ketergantunganku dari sisi seseorang..
Aku ingin bias-bias rasa segera pudar.. Aku ingin cebis-cebis kenang hilang jua.

Duhai sang empunya bulir-bulir hujan.. Deraskan hujan-Mu..
Jatuhkan sejatuh-jatuhnya.
Agar pulas terlelap tidurku.
Hingga mengalahkan dendangan sepi yang melenakan.
Bawa  aku duhai mimpi..

Ahh.. Sesaat aku terbangun oleh senja..
Oleh  gemuruh gerombolan butir-butir hujan yang tak berani datang seorang diri.
Biarkan aku.. Menghentikan penantian nyali.
Entah kapan kau hadirkan sebungkus nyali di meja lelahku.

Biarkan aku.. Dalam keterpasungan gemeretak lelah-lelahku.
Aku hanya mau merehatkan telinga dari retorika-retorika mengambang.
Merebahkan raga dan kaki yang senantiasa ku ajak berpetualang.
Kini, diranah nyataku... Lelah dan kecewaku telah benar-benar mengkristal.
Sungguh..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar