Kamis, 20 Oktober 2011

Sang Tuan Embun



Bak embun tersamar raga tuan hujan.. Penambah semilir rasa.
Menggantung di sudut-sudut tiang jemuran tetangga..
Lembar demi lembar dedaun. Dan berorientasi menjatuhkan diri pada rerumput basah.
Membangunkan telinga oleh gemerisik suara nan lembut. Ahh.. embun.
Lagi-lagi parasmu tersamar gerombolan bulir-bulir hujan.
Tak kah kau coba mencondongkan diri dan menepuk dada seraya berkata..
‘’ Aku lah si Tuan embun yang maha hebat”.
“ Akulah pemilik raga yang walau kecil namun tetap terlirik”
Aku tak terkalah oleh bulir-bulir air apapun di muka bumi.

Mana..?? Tak kudengar suara lantam itu.. Mengapa tak kau pekikkan..?
Jangan pernah menghamba wahai tuan embun...
Engkau punya jati diri yang hebat..
Hhh... sudahlah.. mungkin kau memang tak ingini mendamba diri.
Mendamba untuk mereka yang benar-benar ingin meng’aku’mu..
Baiklah, Pintaku tetaplah jadi embun yang menyejukkan nurani..
Dengan lantunan tetes demi tetes..
Ahh.. damai sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar