Rabu, 12 Oktober 2011

Indah pada waktunya (2)


Ahh.. Pagi selarut ini masih saja kuberkelahi dengan tugas-tugas.. tentu saja aku tak ingin dikalahkan oleh apapun. Kulihat wajah damai mereka ketika terlelap, sangat kontradiksi sekali dengan parasku yang pucat pasi dan bola mataku yang tinggal beberapa volt lagi karena tak bersahabat dengan malam yang inginkan aku selalu berada di alam keterjagaan. Mengapa mereka terlalu begitu cepat terlelap, padahal ku fikir tidak seberat itu perjuangan siang mereka yang pasti berorientasi melemahkan raga. Baik-baik saja, aman-aman saja. Mungkin memang sudah menjadi jalan hidup mereka seperti itu, masa bodoh dengan keterjagaan. Masa bodoh yang penting mereka membiarkan rasa lelap menyelinap ke raga mereka. 
Lalu, bagaimana dengan aku ini.. seyogyanya aku layaknya mereka disana. Berjibaku dengan posisi yang strategis mencari lapak yang layak untuk merebahkan pikiran ini. Sungguh, aku benar-benar ingin meluruskan raga, bangun sekejap dari keterjagaan. Sampai kapan? Sebeginikah? Lelah-lelahku mulai bergemeretakan Tuhan. Tak pandai aku menyembunyikan lantunannya. Pintaku, sebentar sahaja rasanya ingin sekali memejam mata, mengheningkan pandangan, merestartkan isi otakku yang sudah mencapai kapasitas penuh dan tak mampu menerima lagi..  Mengistirahatkan sejuta lelah yang hinggap di punggung langsingku. Walau tak bisa terlelap, ya sudah lah.. paling tidak meluruskan kaki yang sudah kusiksa seharian karena kusuruh berjalan jauh untuk ku..
Saat-saat seperti ini hanya satu nama dan satu raga yang terpatri dan melintas di ujung ingatan. Selelah apapun fikirku, masih akan selalu ada laci menampung sejumput asa yang kudapat darimu. Kemana rimbamu hari ini..?? tak kulihat tingkah gilamu yang sering kutangkap dari ujung mataku. Sisa bayangan pun tak mampu kujamah, ahh.. aku langsung teringat saat itu. Secebis kenang yang terkunci mati di otak penuhku. Minimal masih ada yang keluar sebagai ingatan. Aku ingat betul kegila-gilaanmu dari A hingga Z, bahkan jika masih ada huruf setelah huruf Z aku masih akan menyaksikan gilamu. Aku tak pernah malu melihat perbuatan yang mayoritas khalayak menyebut itu adalah hal memalukan. Aku saksi ragamu, hmm.. kalau sudah begini pembahasannya aku sendiri tak pernah tahu bagaimana mengakhirinya seperti apa kemudian. Baiklah, kulanjutkan.. 
Aku tak pernah membenci ragamu, yang kubenci hanya orientasi hidupmu yang mengambang. Aku sesungguhnya bingung dan mengamati diriku sendiri, ada apa sesungguhnya dibalik parasmu? Dibalik ragamu? Dibalik tawamu? Ah.. sudah hujan.. masih dengarkah suaraku? Masih inginkah mendengarkanku bercerita..
Satu peristiwa tentang hujan lebat mengingatkanku kembali, ketika kau dihadapku. Benar-benar dihadapku. Ketika kau tak pernah biarkan titik rinai hujan menyentuh ujung ubun-ubunku dan biarkan kedua ujung telingaku disapa pekikan petir yang bersaut-sautan dan mencoba membuyarkan perdebatan kita di satu ketika itu. Butiran hujan yang tak berani jatuh sendiri dan membawa rombongan butiran hujan lainnya.. dan jadilah, aku dan kau saling terpaku. Menikmati lantunan nada hujan demi hujan. Saling bertatap wajah dan bertemu mata. Ahh, sungguh pertemuan yang melenakan.
Sesaat aku terbangun dari lenaan itu. Ah, sekelebat kenang ternyata. Hmm, cukup menghiburku dan keterjagaanku. Oh Tuhan, kapan aku sudah boleh tidur? Jika masih melotot mata dan pikiran ini, masih akan selalu terekam nama dan tingkah polanya. Kujamin itu.
Andai ragamu disini saat ini jua, kau tahu rasanya bagai menari di awan.. terbang menghilang dalam pelukan malam layaknya sepenggal lirik lagumu dan adikmu itu.
Aku.. aku mulai mencari ragamu lagi belakangan. Walau tak kusangkal belum bisa kuberi 1 maaf itu, meski maaf yang lain tlah kubagi. Tapi, ternyata rasa mengalahkan ego. Ingatanku tertuju ketika aku engkau sulap menjadi seperti tuan putri yang didampingi pangerannya, yang memperlakukanku dengan teramat lembut dan memang harus begitu memperlakukan perempuan yang berharga. Sudahlah itu sudah. Aku ingin bertanya satu hal dan tak usah kau berbalik tanya mengenai bau rasaku seperti apa untukmu. Pertanyaanku semudah ini, sudah cukupkah semua nyalimu berkumpul menjadi satu? Butuh berapa saat lagi meyakinkan hatiku? Menuju ikatan suci Illahi kita.. bersumpah sehidup semati. Kau pun tahu tak sebentar aku dan kau kumpulkan rasa, sejak 3 tahun lalu itu. Ketika pertama kali bertemu aku tak menganggapmu gila, namun yang lain beranggapan berbeda. Kau masih cukup waras bagiku, buktinya kau bisa berhenti menggila sejenak untuk meyakinkan hati seorang perempuan virgo. Ketika kita bangun hubungan diatas luka dua manusia berharga yang kita cinta. Butuh kesendirian untuk bangkit dari keterpurukan. Kau kutinggalkan. Dan kau tinggalkan aku. Dan sudahlah, ya sudah.. semua sudah menjadi ketersudahan. Kesalahan indah kita kala itu.
Sekarang aku ingin bertanya lagi, saat ini aku berada dalam kapasitas seorang diri begitu jua layaknya kau. Rasa yang kau biarkan pergi berulang-ulang-ulang-ulangkali, dan rasa yang datang berulang-ulang-ulang-ulang-ulangkali jua ketika aku bertatap dengan mata itu. Aku ini apakah? Patungkah? Manekinkah layaknya di distro-distro? Katakan sampai kapan aku menanti nyali mu? Tahukah kau satu hal, letihku mulai mengkristal. Tolong jangan pernah biarkan letih itu menjadi benar-benar mengkristal. Saat kau beri “saat” untuk sebuah ego yang ingin mendewasakan dirinya saat itu juga kau beri “saat” dimana aku harus melepaskan pakaian ketergantunganku dari sisimu.. mungkin semua sudah terlepas, karena aku pribadi mandiri untuk kapasitas seorang perempuan dewasa. Tapi, cebis-cebis kenang yang tak kan pernah bisa memudar. Begitu terpatri di ingatan. Ahh, Pangeran hati.. pergilah yang jauh. Gapai angan dan asamu.. lalu kembali dan hadiahkan sekotak nyali itu. Aku yang sedari waktu memulainya, masih menanti ragamu. Biarkan aku menikmati buncahan rindu dan mengulas kenang di ranah mimpi sebelah hatiku yang tunggal. Karena yang sebelah lalu, kau pinjam untuk kau bawa melayang di negeri antah berantah bukan negeri yang dikepalai presiden retorika beserta antek-anteknya ini. Simpan baik-baik sebelah hatiku yang kau pinjam itu, aku tetap disini sayangku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar