Ahh.. Pagi selarut ini masih saja kuberkelahi dengan
tugas-tugas.. tentu saja aku tak ingin dikalahkan oleh apapun. Kulihat wajah
damai mereka ketika terlelap, sangat kontradiksi sekali dengan parasku yang
pucat pasi dan bola mataku yang tinggal beberapa volt lagi karena tak
bersahabat dengan malam yang inginkan aku selalu berada di alam keterjagaan.
Mengapa mereka terlalu begitu cepat terlelap, padahal ku fikir tidak seberat
itu perjuangan siang mereka yang pasti berorientasi melemahkan raga. Baik-baik saja,
aman-aman saja. Mungkin memang sudah menjadi jalan hidup mereka seperti itu,
masa bodoh dengan keterjagaan. Masa bodoh yang penting mereka membiarkan rasa
lelap menyelinap ke raga mereka.
Lalu, bagaimana dengan aku ini.. seyogyanya aku layaknya
mereka disana. Berjibaku dengan posisi yang strategis mencari lapak yang layak
untuk merebahkan pikiran ini. Sungguh, aku benar-benar ingin meluruskan raga,
bangun sekejap dari keterjagaan. Sampai kapan? Sebeginikah? Lelah-lelahku mulai
bergemeretakan Tuhan. Tak pandai aku menyembunyikan lantunannya. Pintaku,
sebentar sahaja rasanya ingin sekali memejam mata, mengheningkan pandangan,
merestartkan isi otakku yang sudah mencapai kapasitas penuh dan tak mampu
menerima lagi.. Mengistirahatkan sejuta
lelah yang hinggap di punggung langsingku. Walau tak bisa terlelap, ya sudah
lah.. paling tidak meluruskan kaki yang sudah kusiksa seharian karena kusuruh
berjalan jauh untuk ku..
Saat-saat seperti ini hanya satu nama dan satu raga yang
terpatri dan melintas di ujung ingatan. Selelah apapun fikirku, masih akan
selalu ada laci menampung sejumput asa yang kudapat darimu. Kemana rimbamu hari
ini..?? tak kulihat tingkah gilamu yang sering kutangkap dari ujung mataku.
Sisa bayangan pun tak mampu kujamah, ahh.. aku langsung teringat saat itu.
Secebis kenang yang terkunci mati di otak penuhku. Minimal masih ada yang
keluar sebagai ingatan. Aku ingat betul kegila-gilaanmu dari A hingga Z, bahkan
jika masih ada huruf setelah huruf Z aku masih akan menyaksikan gilamu. Aku tak
pernah malu melihat perbuatan yang mayoritas khalayak menyebut itu adalah hal
memalukan. Aku saksi ragamu, hmm.. kalau sudah begini pembahasannya aku sendiri
tak pernah tahu bagaimana mengakhirinya seperti apa kemudian. Baiklah,
kulanjutkan..
Aku tak pernah membenci ragamu, yang kubenci hanya
orientasi hidupmu yang mengambang. Aku sesungguhnya bingung dan mengamati
diriku sendiri, ada apa sesungguhnya dibalik parasmu? Dibalik ragamu? Dibalik
tawamu? Ah.. sudah hujan.. masih dengarkah suaraku? Masih inginkah mendengarkanku
bercerita..
Satu peristiwa tentang hujan lebat mengingatkanku kembali,
ketika kau dihadapku. Benar-benar dihadapku. Ketika kau tak pernah biarkan
titik rinai hujan menyentuh ujung ubun-ubunku dan biarkan kedua ujung telingaku
disapa pekikan petir yang bersaut-sautan dan mencoba membuyarkan perdebatan
kita di satu ketika itu. Butiran hujan yang tak berani jatuh sendiri dan
membawa rombongan butiran hujan lainnya.. dan jadilah, aku dan kau saling
terpaku. Menikmati lantunan nada hujan demi hujan. Saling bertatap wajah dan
bertemu mata. Ahh, sungguh pertemuan yang melenakan.
Sesaat aku terbangun dari lenaan itu. Ah, sekelebat kenang
ternyata. Hmm, cukup menghiburku dan keterjagaanku. Oh Tuhan, kapan aku sudah
boleh tidur? Jika masih melotot mata dan pikiran ini, masih akan selalu terekam
nama dan tingkah polanya. Kujamin itu.
Andai ragamu disini saat ini jua, kau tahu rasanya bagai
menari di awan.. terbang menghilang dalam pelukan malam layaknya sepenggal
lirik lagumu dan adikmu itu.
Aku.. aku mulai mencari ragamu lagi belakangan. Walau tak
kusangkal belum bisa kuberi 1 maaf itu, meski maaf yang lain tlah kubagi. Tapi,
ternyata rasa mengalahkan ego. Ingatanku tertuju ketika aku engkau sulap
menjadi seperti tuan putri yang didampingi pangerannya, yang memperlakukanku
dengan teramat lembut dan memang harus begitu memperlakukan perempuan yang
berharga. Sudahlah itu sudah. Aku ingin bertanya satu hal dan tak usah kau
berbalik tanya mengenai bau rasaku seperti apa untukmu. Pertanyaanku semudah
ini, sudah cukupkah semua nyalimu berkumpul menjadi satu? Butuh berapa saat
lagi meyakinkan hatiku? Menuju ikatan suci Illahi kita.. bersumpah sehidup
semati. Kau pun tahu tak sebentar aku dan kau kumpulkan rasa, sejak 3 tahun
lalu itu. Ketika pertama kali bertemu aku tak menganggapmu gila, namun yang
lain beranggapan berbeda. Kau masih cukup waras bagiku, buktinya kau bisa
berhenti menggila sejenak untuk meyakinkan hati seorang perempuan virgo. Ketika
kita bangun hubungan diatas luka dua manusia berharga yang kita cinta. Butuh
kesendirian untuk bangkit dari keterpurukan. Kau kutinggalkan. Dan kau
tinggalkan aku. Dan sudahlah, ya sudah.. semua sudah menjadi ketersudahan.
Kesalahan indah kita kala itu.
Sekarang aku ingin bertanya lagi, saat ini aku berada
dalam kapasitas seorang diri begitu jua layaknya kau. Rasa yang kau biarkan
pergi berulang-ulang-ulang-ulangkali, dan rasa yang datang
berulang-ulang-ulang-ulang-ulangkali jua ketika aku bertatap dengan mata itu.
Aku ini apakah? Patungkah? Manekinkah layaknya di distro-distro? Katakan sampai
kapan aku menanti nyali mu? Tahukah kau satu hal, letihku mulai mengkristal.
Tolong jangan pernah biarkan letih itu menjadi benar-benar mengkristal. Saat
kau beri “saat” untuk sebuah ego yang ingin mendewasakan dirinya saat itu juga
kau beri “saat” dimana aku harus melepaskan pakaian ketergantunganku dari
sisimu.. mungkin semua sudah terlepas, karena aku pribadi mandiri untuk
kapasitas seorang perempuan dewasa. Tapi, cebis-cebis kenang yang tak kan
pernah bisa memudar. Begitu terpatri di ingatan. Ahh, Pangeran hati.. pergilah
yang jauh. Gapai angan dan asamu.. lalu kembali dan hadiahkan sekotak nyali
itu. Aku yang sedari waktu memulainya, masih menanti ragamu. Biarkan aku
menikmati buncahan rindu dan mengulas kenang di ranah mimpi sebelah hatiku yang
tunggal. Karena yang sebelah lalu, kau pinjam untuk kau bawa melayang di negeri
antah berantah bukan negeri yang dikepalai presiden retorika beserta
antek-anteknya ini. Simpan baik-baik sebelah hatiku yang kau pinjam itu, aku
tetap disini sayangku..