Dan kutahui satu makna yang berdetak..
Bagai terang lilin yang hilang terhembus..
Kupancang tajam nama yang terpatri di otak kecilku..
Hingga menyisa cebis-cebis kenang..
Menuai kealpaan di selaksa tak biasa..
Dan kunyana satu paham yang terdedah..
Bak debu-debu tergilas hempas angin..
Aku menari ditengah dendang-dendang sepi malamku..
Seakan menghamba dihadiahkan seuntai bayang..
Dan kusingkap sebuah tingkap tertutup..
Meraba makna.. Di sela-sela remuk-redam luar-dalam raga..
Jemariku menjuntai pesonamu yang melenakan..
Masih menyisa butir pahit senyum di kedua lubang lesung pipi..
Ahh.. Semoga pelitamu tak mengalahkan doa-doaku..
Sungguh, dalam mayaku ingin kuikuti semua sujud nyatamu..
Bagai terang lilin yang hilang terhembus..
Kupancang tajam nama yang terpatri di otak kecilku..
Hingga menyisa cebis-cebis kenang..
Menuai kealpaan di selaksa tak biasa..
Dan kunyana satu paham yang terdedah..
Bak debu-debu tergilas hempas angin..
Aku menari ditengah dendang-dendang sepi malamku..
Seakan menghamba dihadiahkan seuntai bayang..
Dan kusingkap sebuah tingkap tertutup..
Meraba makna.. Di sela-sela remuk-redam luar-dalam raga..
Jemariku menjuntai pesonamu yang melenakan..
Masih menyisa butir pahit senyum di kedua lubang lesung pipi..
Ahh.. Semoga pelitamu tak mengalahkan doa-doaku..
Sungguh, dalam mayaku ingin kuikuti semua sujud nyatamu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar