Selasa, 03 Januari 2012

Sederet Bait Perempuan Senja

Sebaris kisah dia hadirkan dipelupuk fajar..
Tak perlulah menggambar muka dengan seperangkat alat make up mahal..
Karena baginya kecantikan bukan sebatas sepotong kaki memakai high heels..
Bukan berselimut jubah-jubah mahal berkalung mutiara laut..
Lalu tas-tas import digantungkan di ujung tangan sebelah kiri layaknya istri pejabat yang mendongakkan kepala dan busungkan dadanya ketika mengayunkan langkah..
Bukan seperti itu dipikirannya..

Hhh.. CANTIK...!!
Sudah lama tak ada yang menyebutnya seperti itu..
Ia ingat sekali, dahulu...
Kala bibir manis pria pujangga mengurai definisi kecantikannya dalam sepenggal puisi..

Dia berujar, Aku hanya tinggal memiliki satu penguat di belahan buana yang fana ini setelah seorang ibu.
Kau tak kalah mempesonaku atas pesona-pesona perempuan lalu..
Sekejap semua itu bisa terasa memuakkan bagiku,
Namun demi Tuhan aku tidak menghamba kecantikanmu..
Yang teramat terngiang menggantung didaun telingaku adalah ketika setiap pagi kau bisikkan sesuatu untuk membangunkanku.. mengecup dahiku.
"Selamat pagi"
Suara lembut itu lagi, setiap pagi.
Kau tambah pula hadiahkan aku bonus sepasang anak yang meriangkan hati..
Setumpuk resahmu nan menggemaskanku saat aku terlambat pulang.
Kau tak pernah marah, malah tiba-tiba sudah ada secangkir teh hangat itu.
Tak cukup kutarikan pena ini mengukur budi dan setiamu.
Lalu katakan dengan apa aku membalasmu...??
Tetaplah seperti ini Sang Penguat, jangan pernah merasa rapuh sedetikpun.

Butir-butir airmata berlomba lari membersihkan pipinya yang berdebu.. membasuh pipinya yang keriput.
Badannya memang tak sekuat baja, Belulangnya tak sekokoh kala waktu..
Dia hanya bertumpu pada kaki sendiri sejak pujangganya tlah terbang sendiri.
Dia hanya memiliki sepasang senyum adam dan hawanya..
Dia nikmati belaian matahari, ramahnya hujan, peluh demi peluh seperti mandi di terik bolong saja..
Dia jauh sekali dari kata cantik yang biasanya..
Sudah petang, saatnya ia tinggalkan pinggiran senja.
Bersama pecahan kaki yang sudah usang..


Dia tlah ada di gubuk surga kecilnya..
Berdoa dalam sesaknya nurani, sebutir doa dia panjatkan pada sang Rafi..
"Jaga anak-anakku ketika aku tak disamping inginnya Tuhan.."
Dia bangkit dari do'anya dan menyandingkan pena dengan secarik kertas.
Ia tulis surat untuk dihantar pada Bapak Post besok pagi.
Tak peduli entah dia hantar ke alamat mana.
Sepenggal suratnya berbunyi...
"Aku sudah serenta ini..
Teramat lama kau tak kembali, kadang aku iri pada pelangi.
Bisa tersenyum padamu setiap hari..
Sudah bukan rindu lagi ini kusebut,
Walau kau selalu hadir di penghujung lelahku setiap malam di selaksa mimpi.
Bukan ini yang kudamba, biarlah kaki penuh luka, berpeluh darah, menangisi takdir..
Aku hanya ingin rebahkan letihku di pundakmu, semenit saja.
Lalu akan kuteruskan takdir ini.."





Tidak ada komentar:

Posting Komentar